Gaharu, Komoditas Alternatif Petani PALI

Gaharu, Komoditas Alternatif Petani PALI
Warga Desa Simpang Tais Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sedang memilih gaharu sesuaikan dengan kualitasnya.(foto ist)

Omzet Sampai Jutaan Rupiah
PALI, MEDIASRIWIJAYA - Warga Desa Simpang Tais Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) tidak hanya mengandalkan, sebagai petani karet tetapi juga menjadi pencari kayu gaharu. Komoditas tersebut, diolah untuk memisahkan bagian gubalnya atau teras yang berwarna hitam kemudian dipilih berdasarkan kualitasnya.

Penjualannya pun tidak perlu repot-repot, sebab pembeli bakal datang sendiri menampung seluruh hasil kayu gaharu yang berhasil dikumpulkan warga. Meskipun, untuk mendapatkan gaharu petani harus mencari sampai ke hutan pedalaman.

“Suami saya yang setiap hari mencari kayu gaharu ke hutan-hutan, setelah dapat dan sampai rumah, dipisahkan sehingga bisa dijual dengan harga sesuai kualitas,” kata Siti Pendi, salah satu warga Desa Simpang Tais, melansir radarpalembang, pekan lalu.

Omzetnya pun tidak tanggung-tanggung, karena dikatakan Siti kalau beruntung mendapatkan teras berkualitas super bisa mencapai puluhan juta rupiah setiap minggunya.

“Dalam satu batang ukuran besar, hasilnya tidak sama, ada beberapa kelas. Dimana kualitas super dihargai Rp3 juta/kg dan paling rendah kelasnya hanya Rp 100 ribu/kg. Pembeli datang setiap minggu, dan setiap penjualan rata-rata penghasilan kami mencapai Rp10 juta,” ujarnya.

Kepala Desa Simpang Tais, Eka Peru mengakui desanya menjadi penghasil kayu gaharu terbesar di Kabupaten PALI.

“Awalnya hanya satu atau dua orang warga yang menggeluti usaha mencari dan mengolah kayu gaharu, namun karena usaha ini cukup menopang kesejahteraan, saat ini hampir seluruh warga desa kami menjalani pekerjaan tersebut,” ungkap Kades.

Menghindari pohon gaharu langka karena terus diburu, Kades juga menyebut bahwa sudah ada beberapa warga yang membudidayakannya dengan menanam dikebunnya.

“Sudah banyak yang membudidayakan pohon gaharu, sebab untuk menanam dan perawatannya tidak sulit. Ini dilakukan warga sebagai antisipasi pohon gaharu sulit ditemukan di hutan. Dan bisnis ini juga mendapat respon dari pak Bupati, bahkan beliau (Bupati) juga turut menanam ribuan pohon gaharu,” terang Kades.(net)