Bupati Terima Enam TKW Terlantar Asal PALI

Bupati Terima Enam TKW Terlantar Asal PALI
Kedatangan ke enam warga PALI yang batal berangkat jadi TKW disambut Bupati PALI Heri Amalindo sebelum diserahkan ke pihak keluarga.(foto ist)

PALI, MEDIASRIWIJAYA - Enam orang calon TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang gagal berangkat ke  Taiwan akhirnya kembali, ke Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) didampingi perwakilan dari Kementerian Tenaga Kerja, Senin (14/10) malam.

Kedatangan mereka disambut langsung Bupati PALI, Heri Amalindo, dan langsung diserahkan ke pihak keluarganya yang telah menunggu di rumah dinas Bupati PALI, Komplek Pertamina Pendopo.

Mereka disambut haru dengan derai tetes air mata setelah bertemu dengan orangtua dan anak yang ditinggalkan, demikian melansir kliksumatera.

Leny, warga Desa Mangku Negara Kecamatan Penukal berkata bahwa dirinya memberanikan diri mengadu nasib ke negara Taiwan lantaran tergiur dengan gaji besar yang pihak perusahaan yang ia kenal dari temannya, lantaran sudah bekerja ke luar negeri.

Namun demikian, kata Leny, setelah sampai di asrama perusahaan, dirinya bersama enam orang warga PALI lainnya tak kunjung berangkat selama tiga bulan lamanya menunggu.

"Saya kapok pak," katanya.

"Kami niat berangkat karena memang dijanjikan gaji yang besar Rp 9 juta per bulan dan kami diminta pindah data KTP ke Lampung Utara," ungkap Leny di hadapan Bupati PALI, Heri Amalindo.

Sebelum diserahkan ke pihak keluarga, Bupati PALI, Heri Amalindo berpesan agar kejadian tersebut menjadi pelajaran baik itu bagi enam orang calon TKW yang batal berangkat dan untuk seluruh masyarakat Bumi Serapat Serasan.

"Jangan mudah percaya dan tergiur apabila ada orang yang mengiming-imingi pekerjaan enak dengan gaji besar dan berangkat dengan mudah ke luar negeri secara gratis.

Tanyakan atau gali informasi ke pemerintah atau melalui Disnaker apabila berminat jadi TKI atau TKW, tentang proses menjadi tenaga kerja ke luar negeri," jelas Heri Amalindo.

Terlebih, sebelum berangkat harus merubah data diri terlebih dahulu sebelum berangkat, seperti dialami ke enam calon TKW tersebut.

"Kita harus mempertanyakan kenapa harus merubah data, karena kalau sudah terlanjur dan berangkat ke luar negeri namun suatu saat ada masalah, yang rugi pasti yang bersangkutan karena akan sulit dalam mengurus administrasinya," jelasnya.

Sementara, Subiyanto, wakil presiden IV DPP KSPSI yang ikut mendampingi enam calon TKW asal PALI menjelaskan, bahwa enam calon TKW tersebut nyaris menjadi korban perdagangan manusia.

Sebab, ada kejanggalan saat enam calon TKW asal PALI tersebut mendaftar di salah satu PJTKI di Jakarta dan saat prosesnya data kependudukan mereka dipindahkan dari PALI ke Lampung Timur.

Ketika pembuatan paspor, enam calon TKW dikirim ke Lampung saat malam hari.

"Ketika kami sampaikan ke Kemenaker, lalu dilakukan Sidak, rupanya enam orang itu disembunyikan di salah satu mall di Jakarta, namun saya terus berkomunikasi dengan mereka sampai akhirnya pada Sidak ke dua, mereka ditemukan dan diamankan Kemenaker di RPTC," jelas Subiyanto.

Subiyanto juga menyampaikan apresiasi terhadap kepedulian Pemkab PALI yang langsung meninjau ke-enam calon TKW tersebut dengan mengutus Kepala Disnakertrans PALI.

"Respon cepat Pemkab PALI dan kepedulian pak Bupati yang langsung menyambut kedatangan enam calon TKW kami sangat apresiasi, dan kami berharap kejadian ini menjadi pelajaran kita semua," katanya.

Sebelumnya diketahui bahwa ada enam warga PALI masing-masing bernama Seliyani (21) warga Panta Dewa Kecamatan Talang Ubi, Yuyun (27) warga Gunung Menang Kecamatan Penukal, Badariawati (43) warga Panta Dewa, Pipin (21) warga Panta Dewa dan Debi Mardiana (33) warga Desa Babat Kecamatan Penukal serta Leny asal Desa Mangku Negara Kecamatan Penukal yang mencoba peruntungannya menjadi TKW dengan tujuan Taiwan tetapi gagal.

Kejadian tersebut menyita perhatian masyarakat PALI, dimana ke enam warga PALI yang saat ini tercatat dari data Adminduknya sudah pindah ke Lampung Timur saat ini sudah tiba di PALI dan berkumpul bersama keluarganya setelah sebelumnya diamankan Kemennaker dari salah satu asrama PJTKI di Jakarta.(net)