Buaya Lepas Ditemukan Warga

Buaya Lepas Ditemukan Warga
Warga RT.1 Kelurahan Tanah Periuk Kecamatan Lubuklinggau Selatan II saat mengevakuasi buaya yang ditemukan di siring, Minggu (29/9)

LUBUKLINGGAU, MEDIASRIWIJAYA – Sudah kedua kalinya warga Ketua RT 1 Kelurahan Tanah Periuk Kecamatan Lubuklinggau Selatan II menemukan buaya milik warga setempat lepas. Minggu (29/9) sekitar pukul 16.00 WIB, warga menemukan buaya di siring. Ketua RT.1 Kelurahan Tanah Periuk, Billi menginformasikan buaya yang lepas adalah milik warga setempat. “Saya mengetahui sejak lama lama, kalau ada warga yang memelihara buaya. Bahkan sudah dihimbau agar dipindahkan,” katanya, melansir linggauposonline, Senin (30/9).

Ditambahkannya, buaya yang lepas tersebut diketahui oleh warga berada di siring. Sehingga warga langsung menangkap dan mengamankannya. “Saat dievakuasi, buaya tersebut tidak melakukan perlawanan dan langsung dibawa ke rumah pemiliknya,” jelasnya.

Billi menambahkan, “Tadi saya sudah bertemu dengan pemilik buaya. Saya minta untuk mengamankannya. Juga saya tanyakan, mau bagaimana  lagi, pemilik buaya mengatakan sementara ini akan diamankan dalam rumah agar tidak keluar,” jelasnya.

Ditambahkan Billi, pemilik buaya juga sudah menghubungi orang tuanya yang tinggal di Jawa. Untuk meminta izin segera memindahkan ke penangkaran. “Saya takutkan warga sekitar yang awam merasa ketakutan dan dapat menimbulkan hal yang tidak diinginkan,” jelas Billi.

Apalagi menurut Billi, buaya tersebut dalam satu tahun ini sudah dua kali lepas, “Waktu Ramadhan kembali buaya tersebut sudah berjalan di Jalan Amula Rahayu,” katanya.

Sementara pemilk buaya, Rasmi alias Nanang mengakui ia adalah pemilik buaya tersebut. Menurutnya, buaya itu didapatkan sejak kecil dari temannya di Palembang. “Saya dapatkan dari teman saya, empat tahun lalu. Saat itu buaya masih berukuran empat jari tangan. Awalnya hendak dibunuh, karena sayang, saya meminta untuk mengurusnya, dan semenjak buaya itu saya urus di rumah saya,” jelas Nanang.

Nanang, mengakui sudah beberapa kali menghubungi pihak penangkaran di Yogyakarta, Jambi dan Curup, namun karena tidak memiliki surat izin, maka sulit untuk memindahkan. “Saya sangat senang kalau ada pihak penangkaran mau cepat mengurusi buaya tersebut, asal jangan dibunuh. Saya lebih baik mengurusinya,” jelasnya.

Bahkan Nanang menegaskan, buaya tersebut telah jinak. Karena sejak kecil, buaya diberi makan daging yang sudah dimasak, bukan daging mentah, katanya.

Saat buaya itu lepas, Nanang mengakui ia sedang tidak berada di rumah. Tiba-tiba ia dihubungi Ketua RT menjelaskan buaya miliknya lepas. “Sebenarnya, saat itu mulutnya sudah saya selotif hitam,” ujarnya.(net)