BPS: PDRB Pagaralam Turun Sejak Tiga Tahun Terakhir

BPS: PDRB Pagaralam Turun Sejak Tiga Tahun Terakhir
ILUSTRASI

PAGARALAM, MEDIASRIWIJAYA.com – Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota Pagaralam menunjukkan grafik penurunan dalam kurun tiga tahun terakhir atau sejak tahun 2017 hingga 2019. Bahkan, pada tahun lalu PDRB Pagaralam turun drastis menyentuh angka 3,23 persen. “Pertumbuhannya cenderung melambat. Di mana pada 2017 lalu PDRB menunjukkan angka 4,81 persen dan di 2018 di angka 4,31 persen. Sedangkan di 2019 tren-nya kembali menurun, menyentuh angka 3,23 persen,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pagaralam, Dedi Fahlevi, melansir intens.news, pekan lalu.

Dia menjelaskan, PDRB merupakan nilai tambah bruto atau gross value added yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah. Contohnya, nilai yang ditambahkan yakni dari kombinasi faktor produksi dan bahan baku dalam proses produksi.

Adapun pertumbuhan PDRB ini, erat kaitannya dengan struktur perekonomian daerah. Yang mana di Pagaralam sendiri, didominasi lima lapangan usaha. Pertama yaitu, pertanian, kehutanan, perikanan (22,46 persen).

Kemudian perdagangan besar dan eceran (19,38 persen); konstruksi (16,99 persen); jasa pendidikan (10,05 persen) dan terakhir ialah real estate atau perumahan (5,69 persen). Untuk memacu pertumbuhan ini, kata dia, tidak terlepas dengan pembangunan yang dilakukan pemerintah kota, dalam hal ini diperlukan gebrakan dari kepala daerah, yaitu walikota. Memajukan seluruh sektor pembangunan tidak lain bertujuan mendongkrak pertumbuhan perekonomian.

Dia mencontohkan, di sektor pertanian perlu adanya industri hilir. Di sektor perkebunan, di mana komoditi kopi bisa memiliki nilai tambah yang selama ini hanya sebatas dijual dalam bentuk bijian. “Yang jelas, perlu adanya peran investor masuk ke Pagaralam untuk membuka lapangan usaha baru. Pada akhirnya diharapkan mampu menimbulkan multi efek bagi perekonomian daerah,” beber Dedi.

Dia menilai, dampak lambatnya pertumbuhan PDRB di 2019 salah satunya berasal darisektor pertanian. Misalnya, wilayah Pagaralam yang mengalami kemarau cukup panjang sepanjang tahun lalu. Belum lagi banyak batalnya kunjungan wisatawan ke Pagaralam akibat dampak dari isu serangan harimau. “Fenomena melambatnya pertumbuhan PDRB ini sebenarnya tidak hanya dirasakan Pagaralam. Laju PDRB yang cenderung menurun sebenarnya juga dialami provinsi dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Selatan,” ujarnya.(net)