BPJamsostek Maksimalkan Layanan namun Tarif Tetap tak Naik

BPJamsostek Maksimalkan Layanan namun Tarif Tetap tak Naik
Deputi Direktur BPJamsostek Wilayah Sumbagsel, Arief Budiarto

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA.com – Bentuk komitmen terhadap layanan masyarakat, BPJAMSOSTEK sebagai sebuah lembaga yang memberikan perlindungan kepada masyarakat dalam bentuk jaminan kecelakaan kerja dan jaminan hari tua tetap memaksimalkan pelayanan. Namun dengan tidak menaikkan tarif iuran. Demikian dikatakan, Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Sumbagsel, Arief Budiarti saat konferensi pers dengan media massa di Palembang, Selasa (31/12) kemarin.

Menurutnya, di pengujung tahun 2019, pemerintah meningkatkan manfaat perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Hari Tua (JHT) dari BPJamsostek. Meski manfaat naik, namun pembayaran iuran tetap Rp 16.800 dan tidak ada kenaikan iuran. Malah justru manfaat yang ditawarkan bertambah dari sebelumnya. Menurut Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Sumbagsel, Arief Budiarto, ini merupakan upaya pihaknya untuk memaksimalkan layanan
“Manfaatnya naik tapi iurannya tetap sama,” ujarnya.

Secara rinci Arief menyebutkan, untuk jaminan kecelakaan kerja, keluarga peserta terutama anak-anak akan mendapatkan beasiswa dari BPJamsostek.
Untuk dua anak mulai dari TK hingga kuliah bagi peserta aktif yang meninggal dunia atau cacat tetap akibat kecelakaan kerja. TK hingga SD senilai Rp 1,5 juta, SMP Rp 2 Juta per tahun, SMA Rp 3 juta per anak per tahun dan Perguruan Tinggi Rp 12 juta pertahun.
Dengan jumlah anak yang ditanggung sebanyak dua orang. “Jadi dari dia TK sampai kuliah dibayarkan oleh BPJamsostek. Total beasiswa maksimal dari sebelumnya Rp 12 juta menjadi Rp 174 juta atau naik 1350 persen,” jelas dia.

Seperti belum lama ini, pihaknya kata Arief telah membayarkan santunan pada driver online yang meninggal, sejumlah Rp 42 Juta dari sebelumnya Rp 24 juta. Anak-anak yang ayahnya menjadi korban kita pastikan akan mendapatkan beasiswa sehingga pendidikan mereka terjamin.
 “Biaya pemakaman juga naik Rp 10 juta dari Rp 3 juta sebelumnya,” katanya.

Tak hanya itu, seiring waktu pelayanan yang diberikan juga turut ditingkatkan dan bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh peserta.
Seperti layanan Homecare yang diberikan paling lama satu tahun dengan maksimal biaya Rp 20 juta.
“Kan suka ada yang setelah perawatan di rumah sakit masih perlu perawatan lanjutan di rumah. Nah, kita mengcover biaya-biaya yang dikeluarkan selama perawatan peserta aktif tersebut,” katanya.

Lanjut Arief, tambahan manfaat lainnya adalah penggantian biaya alat bantu dengar maksimal Rp 2,5 juta, pergantian gigi tiruan Rp 5 juta dari sebelumnya Rp 3 juta.
Lalu, penggantinya biaya kacamata maksimal Rp 1 juta serta pemeriksaan diagnostik untuk penyelesaian kasus penyakit akibat kerja bagi peserta yang telah terbukti mengalami penyakit akibat kerja.
“Sebelum JHT mereka dicairkan ketika mereka tak lagi bekerja atau dirumahkan oleh perusahaan, kita memberikan pelatihan lewat program vokasi untuk meningkatkan skill peserta agar mereka tetap bisa produktif bahkan menjadi enterpreuner,” ujarnya. (rin)