Ayo, Siapa yang akan Memperhatikan Nasib Bocah Ini?

Ayo, Siapa yang akan Memperhatikan Nasib Bocah Ini?
(foto: mediasriwijaya.com/ist)

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA.Com - Foto bocah ini diambil semalam, Kamis (7/3) dengan posisi masih berada di RSMH Palembang. Foto ini dikirimkan relawan dari Sriwijaya Plus ke Redaksi mediasriwijaya. "Foto kami ambil semalam. Saat ini adek kecil ini berada di sal anak ruang isolasi, usia 5 tahun, di RSMH, tim dokter RSMH sudah menegakkan diagnosa, Gizi Buruk, Positif Kusta dan HIV Positif, Infeksi Paru," demikian bunyi chart pesan Wa Ketua Yayasan Sriwijaya Plus, Rahmad Saleh, Jumat (8/3) sekitar pukul 15.26 WIB.

Menurut Rahmad, sebenarnya anak usia lima tahun tapi kondisi tubuh seperti masih usia dua tahunan ini sudah menginap beberapa hari di RSMH. Pihaknya selaku relawan sudah berusaha menghubungi beberapa pejabat terkait seperti Dinas Sosial Provinsi, Dinas Kesehatan Provinsi namun diakui Rahmad respon yang mereka berikan lambat. "Kadinsos Provinsi sebetulnya sudah berkunjung ke sal adek kecil ini, kami juga sudah tawarkan solusi tapi sepertinya isu ini belum urgen bagi mereka," kata Rahmad dengan nada prihatin.

Ayo, siapa yang peduli dengan nasib bocah kecil yang malang ini??? 


HIV Anak Butuhkan Shelter Pemprov Sumsel
Orang yang tertular HIV tidak bisa lagi digeneralisasi berperilaku menyimpang. Karena saat ini Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) terbesar menurut kelompok mata pencahariannya adalah ibu rumah tangga dengan jumlah 9.096 orang. Sekitar 4,9 juta dari mereka menikah dengan pria berisiko tinggi HIV, dan sebanyak 6,7 juta pria di Indonesia merupakan pembeli seks (sumber Kementerian Kesehatan RI).
"Kasus HIV dan AIDS Sumatera Selatan menurut data Kementerian Kesehatan RI sebanyak 3.254 orang, dan yang mendapatkan pendampingan psikososial dari Sriwijaya Plus sebanyak 1.174 orang (sumber Sistem Informasi Spiritia) dalam Program Nasional Dukungan Sebaya bagi ODHA dan keluarga.
Cascade HIV dan AIDS," kata Ketua Sriwijaya Plus, Rahmad Saleh, Jumat (8/3).

Menurutnya, ada GAP sebesar 2.080 orang atau 64% yang Lost Contact atau belum didampingi. Tingginya angka Lost Contact ini dipengaruhi banyak faktor, salah satunya adalah stigma dan diskriminasi di masyarakat terhadap ODHA, sehingga ODHA enggan untuk kembali mengakses layanan kesehatan.
Tingginya data terkait ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV, berimbas pada temuan kasus anak yang terlahir HIV Positif. "Di Sumatera Selatan 128 anak terlahir HIV (data Kementerian Kesehatan RI) dan yang didampingi oleh Sriwijaya Plus sebanyak 52 anak," ujar Rahmad.


Cascade Anak HIV
Cascade anak HIV di atas menunjukan sebanyak 76 anak yang belum didampingi atau Lost Contact, salah satu penyebabnya yang ditemui dilapangan adalah anak tersebut telah meninggal dunia namun tidak dilaporkan oleh pihak layanan kesehatan. "Kasus anak HIV memerlukan penanganan khusus, hampir 90% anak HIV yang didampingi Sriwijaya Plus berasal dari golongan ekonomi lemah. Sebanyak 35 anak sudah tidak memiliki orang tua (data terlampir). Padahal sangat dibutuhkan pengawasan minum obat HIV (Anti Retro Viral) secara patuh dan sesuai dosis agar anak tidak terkena infeksi penyerta seperti Kusta, TBC, Radang Paru, Toksoplasma dan infeksi penyerta lainnya bahkan saat ini ada anak HIV yang dalam kondisi gizi buruk karena faktor ekonomi. Kepatuhan terapi Anti Retro Viral ini bertujuan untuk menekan replikasi virus sehingga anak dapat pulih dan normal kembali,"ujarnya. 

Masih menurut Rahmad, komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sangat dibutuhkan khususnya bagi anak HIV. Karena sampai saat ini belum ada program dan kegiatan yang secara spesifik diperuntukan bagi anak HIV. Padahal mereka sangat memerlukan perlindungan dalam menghadapi stigma dan diskriminasi yang tinggi dimasyarakat, pengawasan minum obat HIV, penerimaan status HIV dan permasalahan sosial ekonomi lainnya.

Usulan yang diberikan adalah, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan adalah mendirikan shelter/ rumah singgah. Mekanisme Program Orang Tua Asuh bagi Anak HIV bisa diterapkan, selain pendanaan APBD, Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan bisa mendorong keterlibatan Forum CSR Sumatera Selatan. Diharapkan dengan adanya shelter/ rumah singgah, bisa menjadi tempat yang nyaman serta aman bagi anak HIV untuk bermain dan belajar dengan harapan anak HIV mampu kembali ke masyarakat serta bisa menggapai cita-cita mereka seperti anak normal. (rel/safta)